Perjuangan Gadis! Hidup di antara Mimpi, Harapan dan Kenyataan

Recommended


Perjuangan Gadis! Hidup di antara Mimpi, Harapan dan Kenyataan

Kehidupan bukanlah impian….
Kehidupan bukanlah khayalan…
Kehidupan adalah kenyataan…

Tapi terkadang impian dan khayalan yang membuat mereka hidup menjadi terasa nyata….

Semua orang punya impian, impian yang membuat mereka hidup, dan harapan yang membuat mereka bertahan dalam hidup. Tapi apa yang terjadi ketika impian dan harapan di pertaruhkan dengan yang namanya kenyataan. 

Seolah impian dan harapan itu hanya menjadi angan–angan belaka, sedang kenyataan  menjadi takdir hidup yang nyata yang harus di jalani dan di terima dengan lapang dada, tak memandang sakit bahkan terlalu pahit.

Begitupun yang terjadi dengan Dona, remaja 19 tahun lulusan SMA tahun kemarin. Dona yang semula selalu terlihat ceria dengan senyum manisnya dan tawa candanya yang tak pernah hilang. 

Kini semuanya berubah Dona lebih terlihat seperti pemurung yang matanya selalu kelihatan sembab, dan tatapan matanya seolah kosong. Mungkin karena terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk menangis dan menguras habis air matanya.


Semua itu berawal ketika impian dan harapan Dona untuk masuk ke perguruan tinggi sirna sudah dan menjadi kegagalan ke2, setelah sebelumnya Dona  juga gagal masuk perguruan tinggi tahun lalu. 

Itu semua bukan lah tanpa alasan, tapi dengan alasan yang cukup tidak bisa di mengerti, satu hal yang vivi tau adalah karena semula Dona menolak masuk perguruan tinggi pilihan orang tua dan kakaknya.

"Yah oke… mungkin ini konsekuensi yang harus di ambil, harus kuliah tahun depan, aku terima itu” hanya pikiran itu yang terbesit di hati Doan.

Untuk menunggu setahun itu, Doan melawati hari-harinya dengan kegiatan-kegiatan yang seadanya “yang penting bermanfaat” pikirnya selalu begitu. Yang terpenting buat Dona adalah selama tidak merasakan kebosanan pasti Dona kerjakan.

Tapi seolah rasa bosan itu tetap datang meskipun tak di undang. Untuk itu Dona memutuskan untuk mencoba untuk melamar kerja. Meskipun hanya bebekal dengan ijazah SMA yang nilainya cukup memuasakan,tapi Dona tetap optimis dengan keputusannnya itu. Pertama kali melamar kerja di sebuah restoran yang baru beberapa bulan berdiri. “mungkin ada harapan di sana” harap Dona.

“Tapi teman-temanku saja yang sudah lulus S1 masih belum dapet kerja, apalagi aku yang hanya mengandalkan ijazah SMA” pikir Dona yang perasaan itu memebuat niat Dona 0% lagi. Dengan optimis Dona meneruskan langkahnya, Dona menitipkan lamarannya kepada teman kakaknya (kal sinta namanya), sorenya pun ia menerima telepon dari kak sinta.

“Don di suruh ke rumahnya bos ntar sore jam 5” suara kak santi di sebrang telpon mengagetkan Dona. “oke….makasih kak” jawabnya senang hati. “yu…. masama…..” jawab kak santi lalu menutup telpon.

Sore itu Dona di antar temannya (kak rendi) menuju rumah bos restaurant itu. Sessampainya di sana, Dona di persilakan masuk, sedangkan kak rendi hanya menuggui Dona di luar.

30 menit berlalu,Dona keluar berarti suadah selesai. “udah Don…” tanya kak rendi simple. “udah..biasalah wawancara gitu…” jawab Dona. Kemudian Dona dan kak rendi melaju dengan motor dengan kecepatan cukup tinngi karena hari sudah menjelang malam.  “pasti di marahin nih…” pikir Dona  selama dalam perjalanan pulang.

Sesampainya di rumah Dona Cuma bilang “makasih ya kak…” dengan senyumnya, kak rendi hanya mengangguk dan berlalu pulang. Memang kak rendi adalah cowok yang keren dan calm.

Seminngu kemudian Dona mendapat kabar bahwa ia tidak di terima kerja di sana. Hati Dona sedikit kecewa,tapi kekecawaan itu tidak harus menjadikan Dona larut dalam keterpurukan. Dona tetap bersikeras mencoba melamar kerja ke tempat lain, hingga beberapa kali, namun tetap hasilnya selalu nihil.

“ahh payah aku ini gagal terus” pikir Dona dengan nada penuh kekecewaan.

“sabar teman…semua ada waktnya…” kata-kata itu terbesit di pikiranku, itu adalah kata-kata di message hp Dona kiriman dari teman Dona yang apabila vivi mengeluhkan permasalahnnya pada dia,dia selalu saja mengirimkan message itu. 

Tapi entah dia di mana sekarang, kini vivi dan dia hanya berkirim message saja tapi itu membuat Dona merasa cukup karena berarti dia masih peduli terhadapnya.6 bulan begitu cepat berlalu namun kerjaan belum di dapat pula. “gagal nih ngebahagiain orang tua..” pikir Dona penuh kekekcewaan.

Meskipun sebenarnya vivi tau bahwa orang tuanya tidak pernah menyuruh Dona cari keja, bahkan Dona ingat ketika orang tuanya melarang Dona untuk melamar kerja di luar kota. “mau apa ke sana vi ?? jauh-jauh !! Tanya ayah. ‘mengadu nasib lah..” jawab Dona spontan.

“cari uang,…bukannya di rumah juga tidak kekurangan apapun?” sela ayahnya lagi.“tapi kan….” ucap Dona tidak melanjutkan perkataannya. “sebenarnya aku cuma pengen belajar hidup mandiri dan cari kegiatan lain aja, aku cuma pengen kalian ngerti ini semua aku lakuin demi kalian juga” ucap vivi dalam hati.

“ya sudahlah…terserah..” ucap Dona sambil berlalu ke kamarnya dengan perasaan sedikit kesal.
Hari–hari selanjutnya di lewati Dona dengan kegiatan seperti dulu tanpa kegiata baru. Dona sedikit senang ketika tau bahwa kakanya akan buka warnet. “ntar aku yang jaga yahh…” pinta Dona tanpa rasa malu. “maunya….iya dehh….” Jawab kakanya itu. 

Dengan itu bertambah kegiatan baru Dona di warnet. She is operator, dia begitu menikmati kegiatan baru nya itu. Banyak yang Dona  dapat antara pengetahuan teknologi dan informaasi terupdate. Terkadang vivi pun lebih tau bahkan so tau.

4 bulan sudah vivi bergelut dengan kegiatan barunya sebagai operator warnet. Kini tiba saatnya orang-orang sibuk menyiapkan penerimaan mahasiswa baru (PMB) di berbagai perguruan tinggi. 

Untuk itu Dona pun semangat sekali mencari program beasiswa di internet, langkah ini vivi ambil agar ia bisa masuk perguruan tinggi sedikitnya bisa meringankan orang tua. Begitu banyak informasi beasiswa yang ia dapat dari internet meskipun dengan satu klikan saja. 

Dan Dona pun mencoba program beasiswa dengan fakultas yang di ambil fakultas ekonomi jurusan akuntansi, maka dari itu Dona mengambil sekolah tinggi ilmu ekonomi. Dona mengikuti program beasiswa ini dengan niat mencari secercah cahaya harapan untuk mewujudkan impiannya. Walaupun ia tau kalau akhirnya akan di masukan ke perguruan tinggi di daerahnya. 

Dan ketika vivi tau bahwa satu dari program beasiswa yang di ikutinya mererima Dona sebagai mahasiswa dengan beasiswa tersebut, Dona pun segera memeberitahukan kepada kedua orang tuanya dengan rasa senang dan bangga. “yah..ibu…akhirnya Dona berhasil masuk dan di terima dengan beasiswa…” ucap Dona penuh rasa bangga. 

Tapi ayahnya hanya diam dan hal itu membuat Dona sedikit bingung. ”Don bukan ayah dan ibu tidak menyetujui tapi ayah ibu hanya khawatir  jika seandainya kamu kuliah di sana dan tinggal jauh dari keluarga, sedangkan di sana tidak ada sanak saudara, coba pikirkan baik-baik lagi…”ucap ayahnya tenang.

“tapi yah…” ucapan itu tidak di lanjutkan Dona, karena buat Dona percuma saja itu tidak akan pernah merubah keadaan. “trus gimana ..” lanjut Dona, “ayah ibu tau apa yang kamu inginkan,tapi kamu juga harus tau apa yang kami khawatirkan, jika memang kamu ingin kuliah,kuliah saja di sini biar kami sekeluarga juga tidak cemas…”“ya sudahlah terserah” kata Dona.

Apa yang harus di cemaskan..” pikir Dona sanbil berlalu menuju kamar . seperti biasanya, dengan sedikit kekecewaan karena harapannya gak ada lagi,air matapun menetes sedikit demi sedikit sampai rasa lelah dan cape itu datang dan membuatnya tertidur pulas dengan meninggalkan air matanya di pipi dan mata yang sembab pun membekas di pagi harinya.

Meskipun air matanya sudah sedikit terkuras tapi semua itu tidak mengurangi semangat Dona sedikitpun. Dona yakin itu jalan terbaik dan masih ada harapan di depan sana,harapan akan vivi kuliah di perguruan tinggi di daerahnya. Setidaknya harapan Dona bisa kuliah tahun itu akan menjadi kenyataan.

Ketika semangat Dona kembali mempersiapakan berkas-berkas untuk melengkpai semua persyaratan masuk perguruan tinggi. Di saat itu pula permasalahan keluarga  datang, permasalahan yang tidak hanya membuat semangat Dona jadi pudar lagi tapi juga membuat Dona jadi merasa akan kehilangan atas harapan yang selama ini ia inginkan ‘kuliah’.

Semula permasalahan itu ia ketahui dari kakaknya kalau sebenarnya ayahnya mempunyai masalah yang cukup besar. Ayahnya sedang terlilit hutang yang cukup besar bekas biaya operasi ibunya. Setahun yang lalu. 

Dan akhirnya Dona baru menyadari bahwa yang meyebabkan ia gagal masuk kuliah tahun kemarin itu karena pasca operasi ibunya yang menghabisakan biaya puluhan juta rupiah, dan itu hasil pinjaman ayah ke orang lain,Sedangkan ayah tidak pernah menceritakan semua itu.

“Apa mungkin ini juga kakak mempengaruhi niatku kali ini, semoga saja tidak” sempat Dona berpikir seperti itu, tapi dalam hitungan detik Dona segera membuang jauh jauh pikiran yang lewat sepintas itu,tapi ia tetap berharap semoga iti tidak kejadian.

Beberapa hari kedepan Dona melupakan semua permasalahn keluarganya, Dona kembali merajut semangatnya yang sempat terputus. Ssemua berkas sudah beres tinggal ikut daftar dan tes USM. Dengan semangat yang sudah kembali pulih.

Dona mengikuti tes USM tersebut. Dan seminngu kemudian hasil tes USM itu di umumkan, Dona kemudian melihat namanya di urutan 10 di antara ratusan nama yang di terima di perguruan tinggi tersebut. 

Tidak ada rasa bangga untuk kali ini,karena Dona merasa itu bukanlan perguruan tinggi populer yang persaingan USM begitu ketat. Tapi rasa senang dan tenang kini ada dalam hatinya. “akhirnya aku bisa kuliah juga…” pikir Dona, “tapi masalah itu…” pikiran itu terlintas lagi di benak Dona.

Memang tak bis adi pungkiri, permasalahn itu telah membuat Dona sedikit ketakutan akan kehilangan kesempatan untuk kuliah lagi. 

“Sudahlah..” pikir Dona membuang jauh-jauh pikiran itu  dengan secepat kilat. Sesampainya di rumah, Dona menyampaikan bahwa ia di terima di perguruan tinggi itu, “sekarang semua sudah beres, Dona keterima di sana….” Ucap Dona riang. Tapi ayahnya tak menanggapi perkataan Dona, ayahnya terlihat tak bersahat.

Ayah harap Dona bisa mengerti dan menerima gimana kondisi keluarga sekarang, bukan ayah menghalangi harapan Dona selama ini, tapi sekarang ayah sedang di hadapkan permasalahan yang cukup besar” ucap ayahnya lirih.

Sontak Dona kaget, jawaban itu seolah menjadi tamparan yang amat sangat keras dan bekasnya tak mampu di hilangkan. Hati Dona hancur berkeping-keping, air mata tak lagi mampu di bendungnya tapi tak juga mampu mengeluarkan air mata itu di depan kedua orang tuanya.air mata itu hanya ada di antara mata yang mulai memerah.

Masalah apa lagi..” ucap Dona bohong, karena sebenarnya dia sudah mengetahuinya. “ Dona tidak perlu tau masalah ini, biarlah ini semua ayah yang menyelesaikan, ayah cuma minta kamu bisa mengerti dan menerima..

Ucap ayah tenang sedang ibu hanya mengikutinya. “Dona dan kakak juga sudah tau yang sebenarnya, tapi kenapa harus Dona lagi yang menanggung resiko dari permasalahan itu….” ucap Dona kesal.

Ayah Dona terlihat sedikit bingung ketika tau bahwa anak-anaknya suadah mengetahui permasalahan yang selama setahun ini di sembunyikan.

Bukan maksud ayah menyembunyikan tapi ini semua demi kebaikan kalian semua. Dan juga bukan maksud ayah tidak mau mengikuti niat baik Dona untuk kuliah. Mungkin ayah bisa saja memasukan Dona kuliah sekarang dengan membayarkan uang yang masih tersisa sekarang, tapi ayah khawatir ke depannya ” ucap ayah sedikit melemah. “Dona tau sendiri ayah hanya kerja bila ada proyek…” lanjut ayahnya.

Yah,,bu,,, Dona cuma minta kuliah sekarang, kapan Dona minta ini itu seperti orang lain, kalo masalah uang khan gampang di cari, apalagi untuk niat baik. Buat nikahan kaka saja bisa yang butuh bukan 1 atau 2 juta tapi lebih dari 10 juta bisa sedangkan buat kuliah Dona tidak biasa.

” Ucap Dona sedikit marah dan hampir air matanya jatuh di pipinya tapi segera ia menahan dengan tanganya,“terserah dah,,,” ucap Dona sambil menuju kamar dan membanting pintu kamarnya dengan keras yang membuat ayah dan ibunya sedikit kaget.

Seperti biasanya  di kamarnyalah Dona menumpahkan air matanya yang sudah tidak bisa di tahan lagi sampai ia tak menyadarinya bahwa ia tertidur pulas dengan meninggalkan bekas air mata di pipi dan bantal kesayangannya itu.

Sejak saat itu Dona belum bisa berpikir jernih antara harus pasrah dengan kenyataan atau bangkit dari keterpurukan untuk meraih impian dan harapannya itu. Dona tak berhenti di situ, Dona meminta pengertian nya kepada kakak-kakaknya, tapi jawabannya tetap sama “sebaiknya Dona mengerti keadaan semua ini” kesimpulan itu yang dapat Dona ambbila dari semua pembicaraan kakak-kakaknya. 

Dona merasa sangat terpukul dengan semua kenyataan hidupnya sekarang yang tak bisa kuliah tahun ini. Kini senyumnya hilang seiring hilangnya harapan dan impian yang telah di pertaruhkan dengan kenyataan yang menurut Dona itu sangat kejam dan tak adil.

Mengapa hidup ini tak adil, kenapa semua itu datang di saat tak aku inginkan,” kata hati Dona.
Hari-harinya hanya di jalaninya dengan kemurungan dan terkadang air mata itu pun menghiasi pipinya ketika ia teringat akan kenyataan yang sangat pahit bahkan sakit itu harus ia jalaninya.

Kesedihan tidak hanya sampai di situ,kini Dona dan keluarga harus menjual rumahnya untuk membayar utang ayahnya. Dan kembali tinggal di rumahnya yang  dulu yang semula di tempati saudaranya. 

Bagi Dona dan keluarga itu bukanlah hal berat karena meskipun pindah rumah toh dulu vivi juga menghabiskan masa kecilnya di rumah itu.Masalah terberat bagi Dona adalah ketika dia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dia tidak bisa kuliah tahun ini, selebihnya bukan masalah besar baginya.

Kini Dona hidup dengan kehidupan barunya, kehidupan seoalah di mulai dari nol lagi. Kekecewaan tetap ada di hatinya tapi itu tak membuat Dona harus terus menerus hidup dengan kekecewaan yang akan membawanya pada keterpurukan.

“Aku harus bangkit dan memulai impian dan harapan baru lagi dan aku harus bisa bertahan dalam kenyataan hidup seperti ini, aku yakin masih ada jalan menuju impian dan harapan di dunia ini” pikir Dona panjang. “Semua ini hanya sebagian kecil dari lika liku hidup yang harus di jalani oleh setiap manusia” pikir Dona lagi.

Dona mencoba mengembalikan senyumnya yang semula hilang di telan kesedihan,Dona mencoba menjalani hidup barunya dengan sabar dan ikhlas,karena ia tau dengan sabar dan ikhlas semua bisa di jalani meskipun pahit dan sakit sekalipun, Tak lupa Dona selalu berdoa kepada Allah.

“Ya Allah…kini aku tertunduk malu di hadapanmu, bukan lagi untuk mengadu tentang rasa hidup yang tak adil dan bukan lagi tentang impian dan harapan yang sangat ku inginkan, tapi aku hanya meminta semoga suatu saat aku tidak  menangis dan kecewa lagi seandainya kenyataan pahit lain harus ku jalani”

Permasalahan yang semula menjadi beban kini seolah telah merubah pola pikir Dona yang semula hanya mementingkan egonya saja, sekarang Dona terlihat dewasa dengan pemikiranya yang baru. Sekarang Dona mengerti akan arti dari mimpi, harapan dan kenyataan.

Memang kenyataan tak seindah mimpi yang di harapakan, tapi jangan pernah berhenti untuk bermimpi dan berharap karena impian dan harapan itulah yang menjadikan kita bertahan dalam hidup. “semangat Dona…” ucap Dona.
Recommended


Categories : Cerpen
You May Like

YOU MIGHT ALSO LIKE

PAGEVIEWS