CEPEN - Permintaan Terakhir

Recommended


CEPEN - Permintaan Terakhir - Udara siang ini terasa sangat panas. Sepertinya sekarang sedang puncaknya musim panas. Ini adalah hari ketiga suhu Kairo seakan memanggang para penghuninya. Menurut perkiraan cuaca tadi malam, dalam empat hari ini kota Kairo akan tetap bertahan dengan suhu seperti ini. Hawa panas tidak saja menyerang dari arah atas, tapi panas yang dipantulkan oleh bumi tak kalah hebatnya. Nafas ini terasa sesak, tubuh terasa lunglai tak bertenaga. Keringat bermunculan dari segenap pori-pori. Sehingga badan terasa basah dan lengket. Duh, sangat menggerahkan.

Sudah setengah jam aku duduk di halte yang terlihat sudah tua ini. Selama itu pula aku terus berjuang melawan panasnya cuaca kota ini. Sesekali kukeluarkan tisu dari tas jenjenganku untuk mengelap mukaku yang tak ubahnya seperti pabrik minyak. Namun bus yang akan membawaku ke Hay Asyir belum juga muncul. Ingin rasanya berbetahan di rumah Widia yang pakai penyejuk ruangan, tempat aku nginap beberapa hari ini. Tapi rasa rinduku pada teman-teman di rumah membuatku memilih berpanas-panasan menunggu mobil di sini. Sudah tiga hari aku tak menampakkan batang hidungku di rumah. Seminggu ini aku sangat sibuk. Aku termasuk panitia acara talk show yang diadakan WIHDAH.

Aku dapat tugas diperlengkapan. Jadi aku harus selalu stand by kalau ada yang diperlukan. Makanya aku nginap di rumah Widia karena berada satu kawasan dengan Wisma Nusantara, tempat acara tersebut diadakan. Sekarang acara itu telah selesai. Tugasku sebagai panitia perlengkapan berakhir sudah. Semalam lansung diadakan rapat pertanggungjawaban dan pembubaran panitia. "Aku bebas!" sorak batinku.

* * *
Akhirnya aku sampai juga di “taman langit”ku setelah satu jam berpanas-panasan menunggu bus di Rab'ah tadi. Taman langit? Ya, begitulah aku menyebut apartemen tempat aku dan tujuh teman-teman lainnya tinggal. Apartemen itu terdiri dari lima tingkat, maka kami tinggal di tingkat kelimanya. "Tempat tinggal kami lebih dekat ke langit" seloroh Nina, teman serumahku ketika ia memperkenalkan diri waktu acara MABIT beberapa waktu lalu. Dengan perasaan rindu kumasuki taman langitku. Seperti taman-taman lainnya disinilah tempat keceriaan kami. Tempat kami sama-sama merasakan manisnya persaudaraan karena Allah. Tempat kami saling mengingatkan dan saling memotivasi untuk berbuat kebaikan. Dan tempat inilah yang selalu kurindu-rindukan bila aku telah beberapa hari tidak pulang ke rumah.

Tapi kelihatannya suasana taman siang ini sepi tanpa pengunjung. Kemana saudari-saudariku. Aku ceck setiap kamar, ternyata para mujahidah sedang istirahat qulailah. Ingin juga rasanya memejamkan mata barang sejenak sebelum Ashar. Mengikuti apa yang sedang dilakukan saudari-saudariku fillah. Baru saja akan merebahkan badan, ups! Tumpukan kain yang akan dicuci menyapaku. Lebih baik kain ini kurendam dulu. Setelah itu baru istirahat. Selesai shalat Ashar berjamaah, aku lansung menuju kamar. Teman-teman lain ada yang masih berbetahan di ruang tengah yang diwaktu shalat kami menyulapnya menjadi mushalla. Nia, adik kelas dan sekamar denganku membuntutiku dari belakang.

"Kak Via!" panggilnya takkala kami sudah berada dalam kamar.
"Ada apa Nia?" tanyaku. Aku melihat ada sesuatu yang ingin dia katakan.
"Hmm, anu, tadi ba'da Zuhur Ustazah Fatma nelfon. Dia nanya Kak Via."
"Ustazah Fatma? Trus, beliau ada nitip pesan nggak?" tanyaku lagi.
"Beliau nyuruh Kak Via datang ke rumahnya ba'da magrib" jawab Nia. 

Seketika aku mengerutkan kening. Apa gerangan tiba-tiba Ustazah Fatma meminta aku datang ke rumahnya. Liqa` mingguan? Sekarangkan hari Selasa dan lagian murabbiahku bukan beliau. Atau sekarang sudah ganti? Maklum karena sedikit sibuk akhir-akhir ini, dua pertemuan terakhir aku tidak ikut. Tapi aku minta izin lho sama ustazah Icha, murabbiah kesayanganku. Orangnya supel, shalehah, dan cerdas.

"Atau jangan-jangan ada ikhwan yang.... ih, nggak mau ah menduga-duga melulu" pikirku. Yang penting habis magrib nanti aku akan ke sana, ke rumah ustazah Fatma. Aku tak punya firasat buruk mengenai hal ini, karena aku merasa tidak melakukan kesalahan. Berani karena benar, takut karena salah. Cuma ada rasa deg-degan yang menyelimuti perasaanku.

* * *
"Assalamualaikum!" ucapku begitu pintu dibuka oleh ustazah Fatma.
"Waalaikumussalam! Silahkan masuk 'ammah Olivia!" ustazah Fatma yang sedang mengendong si kecil Zahra mempersilahkan aku masuk. Aku agak grogi dibuatnya. Kedatanganku disambut begitu hangat. Ada apa ini? Apa ada yang istimewa? Aku jadi tambah tidak enak ketika ustazah memuji-mujiku dihadapan si kecil. "Zahrah jangan nakal ya! Malu tuh sama 'ammah. Zahrah mau kan kalau udah gede jadi seperti 'ammah Via? Orangnya pintar, baik hati, tidak sombong, dan punya banyak teman."

"Duh, ustazah apa-apaan ini? To the point dong!" bisikku lirih.
"Ada apa 'ammah?" ustazah sepertinya tahu aku ngomong, tapi tak kedengaran.
"Ustazah jangan gitu dong! Ana jadi nggak enak" jawabku.
"Mari sayang, gendongan sama 'ammah yuk!" kuajak si kecil ke pangkuanku.

Untung si kecil menuruti keinginanku. Jadi sekarang aku bisa lebih menguasai suasana, tidak kaku lagi. Malah ustazah Fatma yang kelihatan agak tegang. Seperti ada yang akan disampaikannya. Penting. Tapi kenapa belum sepatah katapun terucap dari lisannya? Kutunggu sambil mencubit-cubit pipi merah Zahra. Ih, gemas!

* * *
Sayup-sayup terdengar alarm ponselku berbunyi. Kuraba-raba dengan tanganku tempat dimana kira-kira ponsel itu kutarok. Masih dalam keadaan mata terpejam, kupencet salah satu tombol keypad untuk mematikan bunyi alarm itu. Perlahan aku bangkit dari pembaringanku. Mataku masih belum sempurna terbuka. Setelah berdiri walau linglung, aku melangkah menuju kamar mandi. Setelah berwuduk aku menuju ruang tengah. Bermunajat, mohon petunjuk dan ketetapan hati pada Sang Pemilik jagat.

Saat itulah aku kembali teringat kata-kata ustazah Fatma dua hari yang lalu. "Ada seorang ikhwan yang ingin menyempurnakan agamanya. Dan dia bermaksud akan menjadikan Dik Via sebagai teman hidupnya" begitu ustazah memulai pembicaraanya waktu itu. Seketika tubuhku bergetar. Ada hentakan dahsyat kurasa yang bersumber dari arah dada. Baru sekarang aku mengalami hal seperti ini. Tubuhku jadi tak bertenaga sehingga si kecil Zahra kubiar melepaskan diri dariku. Aku tak tahu mengapa aku jadi begini. Apakah aku belum siap?

* * *
"Alhamdulillahirabbil'alamin, Allahu Akbar. Benar-benar luar biasa."
Kupanjatkan puji dan pengangunganku pada Dzat yang membolak-balikkan hati. Cuma butuh tiga hari untuk memantapkan diriku melangkah mendahului rekan-rekan serumahku. Padahal ketika ustazah Fatma mengatakan perihal niat akh Muhsin, aku benar-benar belum merasa siap.

Muhsin. Ya, itulah nama yang diperkenalkan ustazah waktu itu. Dia seorang aktivis dakwah. Sesuai namanya, dia memang suka berbuat kebajikan. Sudah beberapa kali jadi tim sukarelawan di berbagai daerah bencana di tanah air. Sekarang ia masih di Indonesia. Lima belas hari lagi akan menginjakkan kaki di negeri seribu menara ini. Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung. Bayangkan! Karakter yang ku impikan ada pada pria idamanku kelak, ada padanya. Walau masih sebatas cerita dari ustazah, tapi aku berfirasat baik. InsyaAllah.

Berkat karunia-Nya juga aku dimudahkan dalam mengutarakannya pada kedua orangtuaku di kampung. Meski harus bersabar menunggu jawaban sehari, aku mendapat jawaban yang semakin memantapkan niatku terus maju. Dan sekarang tibalah saatnya aku mengatakan rencanaku ini pada teman-teman serumah. Selama ini hanya Nia saja yang baru tahu berita ini.

Sehabis acara kumpul rumah yang rutin kami adakan pada pagi Senin, aku minta waktu untuk bicara. Kukatakanlah pada mereka kronologis peristiwanya mulai dari aku dipanggil ustazah Fatma, sampai aku mendapat izin dan restu dari orang tuaku. "Itu semua hanya memakan waktu seminggu" kataku mengakhiri. Suasana rumah menjadi berseri-seri setelah teman-teman tahu rencanaku. Kulihat senyuman-senyuman merekah dari mulut mereka. Senyuman bahagia tentunya. Satu persatu mereka memelukku mengucapkan selamat. Aku jadi terharu dibuatnya. Seakan pelukan mereka adalah pelukan perpisahan. "Via, soal konsumsi biar ana yang tanggung jawab" Nina yang terkenal jago masak menawarkan diri.

"Kalau hiasan kamar pengantennya, serahkan saja pada kami!" sambung Ratna sambil menoleh pada Susi. Mereka berdua mengangguk mantap. Alhamdulillah yaa Rabbi! Engkau telah mengkaruniakan padaku saudari-saudari yang menyenangkan. Aku tak bisa bicara sepatah katapun. Cuma senyuman makin terharu yang menghiasi bibirku. Sampai akhirnya ada sepatah kata yang membuatku tersentak. Kata-kata itu berasal dari mulut Nia. "Kak Via, permintaan dari akan di tinggal nih. Bagaimana kalau minggu besok kita jalan-jalan? Mau ya kak! Please deh! Ini permintaan terakhir dari kami." Agak tergagap aku mendengar kata-kata barusan. Memori-memori yang selama ini kulupakan muncul kembali.

* * *
Awan hitam dengan gagahnya menutupi cakrawala angkasa. Matahari hari tak sanggup menerobos tebalnya mega mendung sore itu. Angin sejuk bertiup lembut dari arah barat. Sunyi dan hening. Seolah-olah alam dapat membaca suasana hati dua anak manusia yang duduk saling berjarakan di pinggiran sebuah telaga kecil. Aku dan Ricky. "Aku senang dengan keinginanmu melanjutkan studi ke luar negeri. Walau nanti kita akan berpisah. Percayalah padaku! Aku akan selalu setia menunggumu" tampak jelas kesedihan di wajah Ricky.

"Duh Ki, ceritanya sekarang bukan setia nggak setianya. Aku tahu kamu orangnya sangat setia" jerit batinku. "Kok kamu diam? Kamu ragu ya dengan kesetiaanku?" tanyanya mendesak "Aku percaya sama kamu. Tapi ada yang harus aku katakan sekarang. Kamu maukan mendengarnya?" Ricky yang dari tadi menunduk sekarang menoleh padaku. "Ki, dua tahun ini kita telah memiliki hubungan yang spesial. Aku senang bisa akrab dengan orang seperti kamu. Kamu orangnya baik" sejenak aku menarik nafas.

"Sebenarnya akulah yang sangat beruntung dapat gadis sepertimu" tersungging sedikit senyum dari bibirnya. Sementara aku masih mengumpulkan segenap tenaga untuk mengatakan maksud hatiku. Berat kurasa mengungkapkannya. Tapi demi kebaikan akan kucoba. Bismillah. "Tapi tanpa kita sadari selama itu pula kita telah melewati sebuah benang merah yang penuh bahaya. Syukurlah kita terselamatkan dari bahaya itu."

"Maksud kamu apaan sih Via?" Ricky mulai tak paham dengan tujuan pembicaraanku."Aku pengennya kita keluar dari daerah bahaya itu. "Hmm.. Maksudku, mulai sekarang kita lepaskan hubungan spesial ini, kita hanya sebatas teman biasa "Via, kamu nggak seriuskan?" "Maaf Ki, aku tahu ini berat bagi kita. Tapi ini juga untuk kebaikan kita. Kita bisa hidup lebih tenang" kata-kata terakhirku ini membuat Ricky terdiam seribu bahasa. 

Entah karena sedih atau malah belum paham dengan keinginanku. Kutunggu beberapa saat kalau ada yang ingin diucapkannya. Namun dia masih terdiam. Sekarang aku ingin segera meninggalkan tempat itu. Aku rasa aku telah mengatakan keinginan hatiku. Baru saja mau pamit, kulihat tubuh Ricky bergoncang. Dia menangis. "Kamu jangan menangis! Bukan cuma kamu yang sedih. Aku juga sedih" tapi kata-kata itu hanya bermain dalam batinku."Ki, sudah mau hujan. Pulang yuk! "Pulang kemana?"

Ya ampun Ricky. "Pulang ke rumahlah. Aku pulang ke rumahku dan kamu ya, pulang ke rumahmu" kataku agak humoris agar suasana tidak begitu kaku. Namun Ricky masih terpaku dalam kehampaanya. Kehampaan yang kulihat dari pandangannya yang menerawang entah kemana. Satu-satu awan mulai menjatuhkan muatannya. Gerimis. Kami masih berada di pinggiran telaga. Dari kejauhan kulihat sebuah angkot.

"Ki, ada angkot. Aku stop ya?" Kulambaikan tangan minta angkot itu berhenti "Angkotpun berhenti. Ricky masih di tempatnya "Dek, mau berangkat nggak. Kalau ia cepat!" Teriak sopir agak kesal "Ki, cepat Ki! Tu sopirnya sudah menunggu" dengan terpaksa kutarik tangannya yang terasa kaku dan dingin. Kubimbing ia menuju angkot. Sekali lagi terpaksa kulakukan karena kelihatannya dia tak punya tenaga untuk menggerakkan tubuhnya seorang diri. Pada saat itulah terucap sebuah permintaannya. "Via, kamu tak usah memikirkan tentang aku. 

Asal kamu tenang, aku juga senang. Cuma aku ada sebuah permintaan. Nanti kalau ada seseorang yang meminang kamu jadi istrinya, tolong kasih tahu aku! Supaya aku berhenti berharap." Katanya sambil melepaskan peganganku. Seolah dia telah mendapat tenaga baru dan tak butuh lagi bantuanku. Dengan sedikit berlari dia menuju angkot meninggalkannku seorang diri. Tak lama kemudian aku melambaikan tangan pada angkot yang datang dari arah berlawanan dengan angkot tadi. Aku mau pulang.

Itulah sepenggal kisah yang membuatku tiga hari belakangan ini disibukkan oleh sebuah misi pencarian. Mencari keberadaan Ricky. Sudah sepuluh teman kuhubungi, namun tak seorangpun yang mengetahui dimana dan bagaimana cara menghubungi Ricky. Dia menghilang dan tak tahu dimana rimbanya. Sampai teman dekatnya, Riyanto pun tak tahu. Hingga akhirnya aku pasrah. Hanya e-mail satu-satunya sarana yang kupakai untuk memberitahunya. Walau aku tak yakin dia masih membuka e-mail itu. Karena itu adalah e-mail kami berdua. 

Dan pada malam ini seperti biasanya aku kembali bermunajat padaNya. Aku memohon agar Dia mengembalikan kebulatan hatiku melangkah. Bagaimana pun aku sudah berusaha menunaikan “permintaan terakhir”nya. Namun kenapa tekadku masih goyah? Apakah selama ini aku masih menyimpan rasa pada nama yang sudah terkubur di sudut hatiku? "Ya Allah, hamba-Mu ini sangat lemah. Kuatkanlah tekadku. Aku tak ingin masalah sepele ini menghambatku melakukan amalan yang agung"

* * *
Aku sudah berada di depan pintu rumah ustazah Fatma. Aku akan memberikan jawabanku sekarang. Sebelumnya aku sudah minta tambahan waktu empat hari untuk memberikan jawabanku. Dari rumah aku sudah bertekad untuk menerima lamaram aku Muhsin. Walau kurasa hatiku masih menyimpan kemelut, aku berharap jawabanku nantinyalah yang akan memantapkan langkahku. "Bagaimana Dik Via? Apakah lamarannya diterima?" tanya ustazah sejenak setelah aku disuruh duduk.

"InsyaAllah ustazah. Saya bertekad akan melangkah menuju yang lebih sempurna" kujawab pertanyaannya dengan mantap. Aku tak tahu mengapa aku begitu lancar menjawabnya. "Alhamdulillah" ustazah memelukku. Aku balas pelukannya dengan erat. Maka semakin mantaplah tekadku sekarang tanpa ada yang menghalangi lagi. "Sebentar ya!" ustazah masuk ke kamarnya. Aku menunggu di ruang tamu. Tak lama kemudian beliau muncul dengan membawa selembar foto.

"Ini, kemarin Abu Zahrah memberikan foto ini" ustazah menyerah foto itu padaku. Kuambil foto itu dan kutatap seorang ikhwan yang ada di dalamnya. "Alhamdulillah. Engkau telah memberiku anugerah yang tak terhingga ya Allah" untaian puji syukur terucap dalam sujudku begitu aku mengetahui siapa sebenarnya yang melamarku. Seorang yang pernah aku cintai dan mencintaiku. Sekarang memiliki nama hijrah Muhsin. Dialah Ricky.
Recommended


Categories : Cerpen
You May Like

YOU MIGHT ALSO LIKE

PAGEVIEWS